Translate

Saturday, May 11, 2013

ESAI KRITIK PUISI Nia Puspita Sari

KETULUSAN DALAM KESEDERHANAAN CINTA
SAPARDI DJOKO DAMONO
PADA PUISI “AKU INGIN”
Oleh
Nia Puspita Sari - 100211400463



Wahyuningtyas dan Santosa (2011: 1) mengemukakan teori Abrams bahwa ada empat pendekatan terhadap karya sastra, yaitu pendekatan mimetik, pendekatan pragmatik, pendekatan ekspresif, dan pendekatan objektif. Esai ini menggunakan pendekatan pragmatik. Karya sastra merupakan sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Pembaca bisa menafsirkan suatu karya sastra secara subjektif, namun tetap bertolak pada konteks karya sastra yang dikaji.

Suatu karya sastra dianggap berhasil jika tujuan yang ingin disampaikan kepada pembaca telah berhasil dicapai. Berdasarkan teori Icer bahwa dalam suatu karya sastra terdapat ruang kosong. Ruang kosong ini nantinya akan diisi oleh penafsiran para pembaca. Karya sastra dipahami dan dinilai berdasarkan tanggapan pembaca terhadap karya sastra tertentu. Pembaca satu dengan pembaca lainnya tentu memiliki pemahaman dan penilaian yang berbeda terhadap suatu karya sastra. 
Bambang (2010) mengatakan bahwa dalam praktiknya, pendekatan prakmatik mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono bisa diartikan bermacam-macam, yakni cinta kepada Tuhan, manusia, atau alam. Kata “mu” ditulis kecil, jika memang diartikan ‘cinta pada Tuhan’, ‘cinta yang melebur menjadi satu’ karena ada anggapan bahwa Tuhan sudah menyatu dalam diri manusia.
            Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair yang romantis. Banyak penyair menggunakan bahasa yang sulit dipahami oleh pembaca, namun beliau menggunakan bahasa yang sederhana, yang sudah sering kita dengar dalam  kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bisa kita lihat dalam puisi “Aku Ingin”.

Aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
           
Puisi ini disukai banyak orang, terutama para remaja. Sering dilampirkan di surat undangan pernikahan. Puisi ini terlihat sederhana, tapi maknanya dalam. “Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”. Tiada? Isyarat apa? Peristiwa sederhana, namun mengingatkan kita pada peristiwa besar. Tampak visual sederhaa, tapi begitu dalam maknanya, tidak mudah menafsirkannya. Gaya prosaik.
“Sederhana” bukan berarti mudah. Puisi “Aku Ingin” tidak mudah untuk ditafsirkan. Ada ruang kosong di dalamnya yang disadari atau tidak, mengajak pembaca untuk mengisi ruang kosong tersebut. Puisi itu berbicara tentang kata dan isyarat yang tidak sempat tersampaikan. Pembaca tidak pernah tahu kata dan isyarat sebenarnya dalam puisi tersebut. Berdasarkan hal tersebut, pembaca bebas mengisi kekosongan tersebut dengan penafsiran masing-masing. Akan tetapi, penafsiran yang diberikan harus tetap bertumpu pada konteks yang diberikan oleh Sapardi Djoko Damono.
            Puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono ini sungguh menggetarkan jiwa pembaca. Kisah cinta yang dramatis dengan kesederhanaan yang menghiasinya. Puisi ini terdiri atas dua bait yang masing-masing ada tiga larik. Pada bait pertama larik pertama terdapat sajak berbunyi “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:” bisa diartikan dengan seorang anak manusia yang mencintai seseorang dengan ketulusan dan apa adanya. Dia memberikan cintanya tanpa mengharapkan balasan.
            Pada larik kedua terdapat sajak yang berbunyi Dengan kata yang tak sempat diucapkanbisa diartikan bahwa kata masih dipendam. Cinta sejati tidak perlu diungkapkan lewat kata-kata atau sajak atau janji manis yang masih fatamorgana. Cinta sejati bisa dirasakan dengan tindakan nyata yang lebih bisa mempersembahkan bunga-bunga kasih yang sesungguhnya.
Pada larik ketiga terdapat sajak yang berbunyi Kayu kepada api yang menjadikannya debu”. “Kayu” bisa diartikan sebagai “seorang laki-laki”, sedangkan “api” bisa diartikan sebagai “seorang perempuan” atau bisa jadi sebaliknya. Manusia diciptakan berpasangan. Api membutuhkan kayu agar bisa bertahan. Api bisa menyala ketika bersatu dengan kayu. Seorang perempuan bisa menikmati kebahagiaan ketika bersama terlebih lagi bersatu dengan seorang laki-laki yang dicintai, begitu pula sebaliknya. Kayu tulus berkorban demi cintanya kepada api. Kayu rela mengorbankan dirinya tanpa mengungkapkan pengorbannya yang begitu besar pada api. Sepasang kekasih itu bisa menikmati bunga-bunga cinta saat bersatu seperti bersatunya kayu dan api yang menjadikannya debu.
Pada larik ketiga bisa juga dimaknai melalui kata yang diucapkan oleh kayu kepada api yang menjadikannya abu. Hubungan kayu dengan abu apabila dihubungkan dengan kepercayaan Cina bahwa terdapat lima esensi hidup, yakni: (1) air, (2) kayu, (3) api, (4) tanah, dan (5) logam. Kayu merupakan unsur hidup. Api bisa meleburkan suatu kehidupan, esensinya yaitu kedalaman makna. Kayu bisa dimaknai sebagai hamba apabila dalam konteks kehidupan manusia. Abu sama dengan mati, sedangkan tiada sama dengan lebur sama dengan nol. Pada kepercayaan Hindu kosong adalah arupadatu. Ketika kosong, yang ada hanyalah Yang Maha Kuasa. Orang yang ingin menyatu dengan Tuhan harus bisa mengosongkan dirinya dengan duniawi.
Pada bait kedua larik pertama terdapat sajak yang berbunyi Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:” yang merupakan perulangan dari larik pertama yang bisa diartikan dengan seorang anak manusia yang mencintai seseorang dengan ketulusan dan apa adanya. Dia memberikan cintanya tanpa mengharapkan balasan. Perulangan ini mempertegas bahwa cinta sejati adalah cinta yang tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Pada larik kedua terdapat sajak yang berbunyi Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan” yang bisa diartikan bahwa cinta sejati tidak perlu disampaikan dengan isyarat. Cinta sejati bisa dirasakan dengan tindakan nyata yang indahnya lebih merasuk ke dalam sanubari. Benih-benih cinta pun bersemi menjadi bunga-bunga kebahagiaan yang harum semerbak.
Pada larik ketiga terdapat sajak yang berbunyi “Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” bisa diartikan seperti larik ketiga. “Awan” bisa diartikan sebagai seorang laki-laki, sedangkan “hujan” bisa diartikan sebagai seorang perempuan, atau bisa jadi sebaliknya. Awan tulus berkorban demi cintanya kepada hujan. Awan  rela berkorban tanpa mengungkapkan betapa besar pengorbanannya. Awan hanya ingin hujan bisa terus berlangsung dan tetap bertahan sampai waktu yang memisahkan mereka. Hujan bisa bertahan ketika bersatu dengan awan. Setelah mereka bersatu, mereka siap menerima apapun yang terjadi, termasuk sebuah perpisahan. Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Pada bait kedua bisa juga dimaknai bahwa terdapat suatu kekontrasan menuju sebuah keabadian. ‘Sederhana’ yang mengungkapkan cinta dengan kata dan isyarat, tidak dengan perhiasan mewah. Akan tetapi, ‘kesederhanaan’ ini kontras dengan ‘tiada’ yang bisa diartikan dengan ‘nol’ atau ‘kosong’, yakni keabadian yang berarti pertemuan dengan Tuhan.
Sekali lagi, puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono ini bisa diartikan cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia, atau cinta kepada alam. Cinta kepada Tuhan yang dimaksud adalah pesan bahwa orang yang ingin menyatu dengan Tuhan harus bisa mengosongkan dirinya dengan duniawi.
Adapun puisi ini diartikan sebagai cinta kepada sesama manusia. Cinta itu sederhana. Cinta berasal dari perasaan yang merupakan anugerah dari Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak ada orang yang bisa menolak datangnya cinta. Cinta sejati tidak perlu diungkapkan lewat kata-kata indah atau janji manis. Cinta sejati juga tidak perlu disampaikan lewat isyarat. Cinta sejati butuh bukti nyata melalui tindakan. Cinta sejati itu tulus. Ketika kita mencintai seseorang, kita rela berkorban agar dia bahagia. Kita berkorban tanpa memedulikan kelanjutan yang akan kita alami, walaupun harus berhadapan dengan kesulitan. Ketulusan ini mencerminkan kesederhanaan cinta.




DAFTAR RUJUKAN
Wahyuningtyas, S. & Santosa, W. H. 2011 Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pustaka.


Bambang. 2010. Pendekatan Pragmatik, (Online),  (http://bambangdssmagasolo.blogspot.com/2010/05/pendekatan-pragmatik.html), diakses April 2013.

No comments:

Post a Comment