Translate

Friday, May 3, 2013

ESAI KRITIK PROSA Eko Sri Mardianingtyas

TEGAK LURUS DENGAN LANGIT
Oleh Iwan Simatupang
Eko Sri Mardianingtyas - 100211406093

Iwan Simatupang bernama lengkap Iwan Maratua Dongan Simatupang, dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928. Masuk Fakultas Kedokteran di Surabaya pada tahun 1953. Kemudian, akhir 1954 dia menuju Amsterdam, Belanda untuk belajar atas beasiswa Sticusa (Stichting voor Culturele Samenwerking), bidang antropologi di Fakulteit der Letteren, Rijksuniversiteit, Leiden, lalu masuk jurusan Filsafat Barat Universitas Sorbonne, Paris, Perancis.


Ketika di Belanda, sejak 1955 sampai 1958, Iwan giat menulis di majalah Gajah Mada, terbitan Yogyakarta. Artikelnya mencakup esai sastra, drama, film, seni rupa, juga ihwal kebudayaan pada umumnya. Selama studi Antropologi dan Sosiologi di Amsterdam, Iwan pun mengarang drama. Tahun 1957 lahir dramanya berjudul Buah Delima dan Bulan Bujur Sangkar. Tahun berikutnya, dia tulis drama Taman. Saat diterbitkan drama itu diberi judul Petang di Taman.
Iwan pernah menjadi guru, wartawan, pengarang cerpen dan puisi, selain menulis esai, drama dan novel. Puisinya pertamanya dipublikasikan berjudul Ada Dukacarita di Gurun, dimuat majalah Siasat edisi 6 Juli 1952. Sajaknya yang lain adalah Ada Dewa Kematian Tuhan, Apa kata Bintang di Laut, dan Ada Tengkorak Terdampar di Pulau Karang. Puisi-puisi itu dimuat di majalah Siasat Baru edisi 30 Desember 1959. Selanjutnya, judul-judul cerpen Iwan adalah Monolog Simpang Jalan, Tanggapan Merah Jambu tentang Revolusi, Kereta Api Lewat di JauhaI, Patates Frites, Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu, Tegak Lurus dengan Langit, Tak Semua Tanya Punya Jawab dan lain-lain.
Karakter tokoh dalam cerpen-cerpen Iwan Simatupang sangat khas. Mereka adalah karakter-karakter yang asing, hilang, misterius, tersesat dalam rimba labirin filosofis atau terasing dari realitas kehidupan sosial. Karakter-karakter itu dalam kehidupan sehari-hari sangat mungkin kita kenal sebagai tetangga atau sahabat kita yang secara fisik biasa-biasa saja namun secara sosial mungkin kita anggap aneh karena pikiran dan tingkah lakunya yang rumit dan tidak biasa.
 “Tegak Lurus dengan Langit” adalah salah satu cerpen Iwan Simatupang yang paling berhasil menggugah kita untuk  berpikir kembali tentang kesadaran meng-Ada manusia. Yang dimaksud “kesadaran meng-Ada” adalah bagaimana manusia (sebagai individu atau sebagai aku) menempatkan dirinya dalam hubungannya dengan orang lain, Tuhan, dan segala sesuatu di luar dirinya.
Judul cerita dari buah karya Iwan Simatupang, unik. Dalam cerpen ini Iwan Simatupang menggunakan permainan kata, pilihan-pilihan kata yang digunakannya menarik. Gaya bahasa metafora dan terkadang hiperbola ditemukan dalam cerita ini, pengarang mengibaratkan sesuatu terjadi pada seorang manusia seperti benda yang ditemukan hampir di akhir cerita.
“Pandangan mata inilah terutama yang membuat tokoh kita bingung. Seolah kedua bola matanya adalah bara, berpijar hitam, masuk menerobos ke dalam seluruh tubuhnya.”
“Laksana pola listrik sejenis, elektron-elektron kedua pasang bola mata itu saling bertolakan. Tokoh kita tertunduk! la kalah Kedua bola matanya lari terbirit-birit ke motif-motif permadani di ba-wah telapak kakinya. Mata! Mata itu!”
Awal cerita ini dibuka dengan langsung masuk ke inti cerita, yaitu tentang seseorang yang membunuh ayahnya walaupun belum tahu motif apa yang dipakainya untuk membunuh. Dan ternyata sampai akhir ceritapun tidak diketahui apa motifnya membunuh. Iwan Simatupang sangat mempunyai ciri khas dalam karyanya, tokoh yang digunakannya tidak disebutkan namanya, khususnya dalam cerpen ini tokoh yang menjadi pusat cerita dinamakannya “tokoh kita”. Selain itu suasana yang dihadirkan dalam cerita ini biasa tapi dibuat sedemikian hingga tidak biasa, maksudnya seperti disebutkan dalam cerita ini bahwa sang ayah dari tokoh kita telah hilang selama bertahun-tahun, dalam realita tentunya ada yang seperti ini, tapi dibuat tidak biasanya oleh Iwan dengan menguak dan mendalami apa yang tokoh kita pikirkan, lihat, dan rasakan.
“Dia baru saja membunuh seseorang. Darah masih lekat di jari-jarinya. Belati masih ia genggam. Dia lari ke bukit itu, diburu tanya: Apa selanjutnya? Setelah berkali-kali belati itu ia dorong ke jantung sang korban.”
Pengenalan tokoh kita sendiri tidak langsung dihadirkan, sehingga yang pada awalnya pembaca terkesan seperti membaca dengan biasa, ketika tiba-tiba dihadirkan dengan tulisan “tokoh kita” menjadi berbeda, sehingga pembaca berpandangan bahwa Iwan Simatupang sastrawan yang berbeda.
“Suatu pagi, anak bungsu, tokoh kita, perlu sisir. la masuk bilik ibunya yang ada di ranjang sedang dipeluk dan dikecup habis-habisan oleh kenalan baik yang suka sering datang main bridge dan halma itu. Mereka bertiga serempak berteriak. Tokoh kita: terperanjat sangat tak percaya, sangat putus asa.” (Tegak Lurus dengan Langit)
Iwan Simatupang merupakan sastrawan yang menyajikan ceritanya dengan suasana mencekam, mungkin “Tegak Lurus dengan Langit” adalah salah satu dari sekian banyak karyanya. Cerita ini bisa dibilang sangat menyedihkan, seorang yang ditinggal hilang oleh ayahnya, kemudian kedua kakaknya yang dipenjara seumur hidup, sang ibu juga meninggal dunia, kemudian saat ia hendak menikah ternyata dibatalkan dan si calon mempelai wanitanya pada akhirnya pun meninggal. Dan semua itu karena satu perkara, hilangnya sang ayah. Bagai tak ada lagi tempatnya di dunia ini, hanya sebatang kara, tapi namanya hidup juga harus selalu dijalani dan ia akan mengakhiri kemelut dari hidupnya.
Di cerita ini, awalnya tokoh kita membenci ayahnya ketika sang ibu meninggal. Di bagian ini ada perulangan, yakni saat sang ibu mengatakan pesan terakhirnya kepada tokoh kita. Juga yang disampaikan oleh calon istrinya sesaat sebelum meninggal, agak benar juga menurut saya seperti gaya film India yang sengaja dibuat kebetulan.
“Tetapi, mereka sekeluarga kini sudah me-nunggu lebih 17 tahun. Ibunya dalam pada itu sudah meninggal pula. Pesannya, “Kalau ayahmu pulang nanti, sampaikan salam saya. Sam­paikan juga, saya masih cin….”

“Ibunya seharian menangis, meraung-raung. Petangnya, ia meninggal, setelah dalam gaya film India meninggalkan pesan padanya, “Kalau ayahmu pulang nanti, sampaikan salam saya. Dan sampaikan juga, saya masih cin….”
Puncak dari cerita ini ialah kedatangan seseorang yang mengaku sebagai ayah dari tokoh kita. Bagaimana tidak mengejutkan, setelah semua kemalangan menimpanya, sang ayah barulah datang, menurut saya ini seperti cerita di sinetron-sinetron dan sang ayah seolah telah merancang semuanya, ia telah mengetahui dengan detail apa yang akan terjadi pada kehidupan keluarganya, kemudian ia kembali ke anaknya. Entah untuk berbuat apa dan apa maksudnya pula. Di cerpen ini juga tidak banyak kata-kata yang keluar dari kedua belah pihak sesaat kemudian tokoh kita menghabisi nyawa ayahnya. Pada peristiwa pembunuhan itu, tokoh kita dalam suasana hati yang galau. Antara percaya dan tidak seorang pria tua di depannya benar ayahnya atau tidak, tetapi kehadirannya itu telah membuka lagi luka-luka dalam kehidupan malangnya. Tentu dalam hal ini tidak ada yang tidak emosi, hanya amarah yang ada dibenaknya.
Iwan Simatupang dikenal sebagai sastrawan yang taat dengan filsafat eksistensialismenya, eksistensialisme sendiri memiliki arti aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu itu sendiri, jadi menghubungkan dengan cerpen ini dalam hal pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh kita. Dimana ia memang tidak memikirkan hal yang dilakukannya apakah itu sebuah kebenaran ataupun kesalahan bagi dirinya, yang pasti kebencian dan sakit hatinya telah dibayar dengan tangannya sendiri. Mungkin ia sadar di mata orang lain yang dilakukannya jelas sebuah kesalahan, maka dari itu ia bermaksud menyerahkan diri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Banyak hal-hal yang ditangkap dari cerpen ini, tetapi ada yang bertolak belakang. Misalnya, apabila dirasakan dari sudut emosional, rasa peristiwa saat tokoh kita membunuh (orang yang mungkin) ayahnya itu pantas saja, seperti yang telah disampaikan pula sebelumnya dengan keadaan yang demikian “sangat kacau” tentu emosi seseorang tidak dapat ditahan dan kalau sudah seperti itu hanya ada hawa nafsu yang menguasai diri kita hingga yang terjadi pastilah sesuatu yang tidak baik. Tapi hebatnya di sini tokoh kita akan mempertanggungjawabkan yang dilakukannya, beda dengan seseorang yang mungkin ayahnya itu tidak ada pertanggungjawaban. Intinya walaupun ia bersalah, akhirnya ia mendapatkan sebuah jawaban di babak terakhir dari sebuah kekacauan dalam keluarganya, yaitu kepuasan. Kemudian sisi lain, si  tokoh kita ini tidak memiliki cukup iman untuk menahan emosinya, seharusnya apabila ia bersedia ia dapat memperbincangkan dengan orang yang mengaku ayahnya itu apa alasan kedatangannya. Pastilah seseorang datang oleh sebuah alasan walaupun sudah terlambat, apalagi membunuh ialah dosa yang amat besar apabila tokoh kita masih berpendirian kepada Tuhan. Jadi, yang masih bikin bingung apakah yang dilakukan oleh tokoh kita ini sebuah kebenaran atau kesalahan.

Mungkin dalam pembahasan cerpen ini tidak menghubungkan dengan tahun pembuatan cerpen (1982), karena lebih menitikberatkan pendapat pada ceritanya saja. Jadi, pesan yang didapat dari cerita ini ialah agar lebih taat beribadah kepada Tuhan, karena emosi yang kita rasakan segalanya tidak lepas dari iman kita kepada Tuhan dan kita hendaklah mempertanggungjawabkan sesuatu yang kita perbuat.

No comments:

Post a Comment