Translate

Saturday, May 11, 2013

ESAI KRITIK PROSA MIra Diah Fajarwati

ESAI PROSA
TRILOGI NEGERI 5 MENARA

Oleh:
Mira Diah Fajarwati - 100211404895


Trilogi Inspiratif
Apa yang akan kamu lakukan jika keinginan kamu untuk meraih cita-cita ditentang orang tua ??
Apa yang kamu rasakan ketika menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginanmu ??
Dan mana yang akan kamu pilih antara keinginan diri sendiri atau pilihan orang tua ??



Beberapa pertanyaan di atas mungkin akan sulit dijawab oleh sebagian orang. Namun, kita dapat memiliki pertimbangan yang pasti usai membaca novel dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Novel pertama dari trilogi tersebut berjudul Negeri 5 Menara. Dalam novel ini akan dijabarkan apabila menjalani pilihan atau perintah dari orang tua dengan ikhlas dan sepenuh hati maka semua akan berakhir indah dan kebahagian untuk kita. Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang anak bernama Alif. Alif adalah anak desa yang ditinggal di Bayur , kampung kecil di dekat Danau Maninjau Padang, Sumatera Barat. Alif dari kecil sudah bercita-cita ingin menjadi B.J Habibie, maka dari itu selepas tamat SMP Alif sudah berencana melanjutkan sekolah Ke SMU negeri di Padang yang akan memuluskan langkahnya untuk kuliah di jurusan ia inginkan. Namun amaknya (ibunya Alif) tidak setuju dengan keinginan Alif untuk masuk SMU, ibunya ingin Alif menjadi Buya Hamka dan melanjutkan sekolah ke pondok pesantren.
Karena Alif tidak ingin mengecewakan harapan orang tua khususnya ibu, Alif pun menjalankan keinginan ibunya dan masuk pondok yang ada di Jawa Timur, yaitu Pondok Madani Gontor, Ponorogo. Walaupun awalnya amak berat dengan keputusan Alif yang memilih pondok di Jawa bukan yang ada di dekat rumah mereka dengan pertimbangan Alif belum pernah menginjak tanah di luar ranah Minang , namun akhirnya ibunya merestui keinginan Alif itu.
Awalnya Alif setengah hati menjalani pendidikan di pondok karena dia harus merelakan cita-citanya yang ingin kuliah di ITB dan menjadi seperti Habibie. Namun pepatah dalam bahasa Arab yang didengar Alif di hari pertama di PM (pondok madani) mampu mengubah pandangan Alif tentang melanjutkan pendidikan di Pesantren sama baiknya dengan sekolah umum. " mantera" sakti yang diberikan kiai Rais (pimpinan pondok ) man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Dan Alif pun mulai menjalani hari-hari dipondok dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.
Dari beberapa kisah yang diungkapkan Fuadi, nampak bahwa Fuadi ingin menyampaikan motivasi inspiratif yang ia ungkapkan secara fiksi bahwa segala hal atau sesuatu perkara jika kita lakukan atas dasar ikhlas akan menghasilkan hal yang positif bagi kita. Apalagi jika atas perintah orang tua dan dilakukan dengan ikhlas hasilnya akan baik untuk kita. Ia juga menyisipkan pepatah islami dalam novel Negeri 5 Menara yaitu “Man Jadda Wajada” yang berarti bahwa siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Dari pepatah itu berarti penulis memang benar-benar memotivasi pembaca, dengan menanamkan motivasi-motivasi yang diiringi dengan rangkaian fakta-fakta yang dilalui oleh tokoh dalam novel tersebut banyak menyuguhkan pengalaman-pengalaman yang menarik bagi pembaca.
Selanjutnya, di PM Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan si jenius Baso dari Gowa, Sulawesi. Ternyata kehidupan di PM tidak semudah dan sesantai menjalani sekolah biasa. Hari-hari Alif dipenuhi kegiatan hapalan Al-Qur'an, belajar siang-malam, harus belajar berbicara bahasa Arab dan Inggris di 6 Bulan pertama. Karena PM melarang keras murid-muridnya berbahasa Indonesia, PM mewajibkan semua murid berbahasa Arab dan Inggris. Belum lagi peraturan ketat yang diterapkan PM pada murid yang apabila melakukan sedikit saja kesalahan dan tidak taat peraturan yang berakhir pada hukuman yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya. Tahun-tahun pertama Alif dan ke 5 temannya begitu berat karena harus menyesuaikan diri dengan peraturan di PM.
Hal yang paling berat dijalani di PM adalah pada saat ujian, semua murid belajar 24 jam nonstop dan hanya beberapa menit tidur. Mereka benar-benar harus mempersiapkan mental dan fisik yang prima demi menjalani ujian lisan dan tulisan yang biasanya berjalan selama 15 hari. Namun disela rutinitas di PM yang super padat dan ketat. Alif dan ke 5 selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dibawah menara mesjid , sambil menatap awan dan memikirkan cita-cita mereka kedepan. Di sinilah Fuadi menuliskan betapa berartinya sebuah persahabatan. Bersahabatan tak hanya ada di saat membutuhkan namun juga memotivasi dan saling membantu di saat teman kita sedang membutuhkan bantuan. Di novel ini juga dituliskan kisah-kisah kekompakan Alif bersama kawan-kawannya yang begitu ulet.
Ditahun kedua dan seterusnya kehidupan Alif dan rekan-rekannya lebih berwarna dan penuh pengalaman menarik. Dari kebiasaan berkumpul di bawah menara itulah mereka menamai kelompok mereka dengan nama “Sahibul Menara”. Di PM semua teman, guru, satpam, bahkan kakak kelas adalah keluarga yang harus saling tolong menolong dan membantu. Semua terasa begitu kompak dan bersahabat, sampai pada suatu hari yang tak terduga, Baso , teman Alif yang paling pintar dan paling rajin memutuskan keluar dari PM karena permasalahan ekonomi dan keluarga.
Kepergian Baso, membangkitkan semangat Alif, Atang, Dulmajid, Raja dan Said untuk menamatkan PM dan menjadi orang sukses yang mampu mewujudkan cita-cita mereka menginjakkan kaki di benua Eropa dan Amerika.
Novel ini benar-benar memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin sukses dan berhasil, bahwa dimana ada usaha disitu pasti ada jalan. Dan ikhlaslah dalam menjalani apapun yang ada di kehidupan kita, niscaya usaha dan keikhlasan hati akan diridhoi Tuhan Yang Maha Esa. Dalam novel ini, Fuadi juga mengingatkan untuk tidak pernah meremehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Fuad menulis novel tersebut berdasarkan dengan pengalamannya dengan dibumbui cerita fiktif yang inspiratif. Fuadi lahir di nagari Bayur, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau tahun 1972, tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Ibunya guru SD, ayahnya guru madrasah. Lalu Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat.
Nampak bahwa si Alif sebagai tokoh Aku dalam novel tersebut sebenarnya adalah si penulis sendiri. Karena sebenarnya dari Gontor pulalah yang membukakan hati Fuadi kepada rumus sederhana tapi kuat, ”man jadda wajada”, siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil. Juga sebuah hukum baru, bahwa ilmu dan bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Bermodalkan doa dan man jadda wajada, dia mengadu untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan Hubungan Internasional, UNPAD.
Pengalaman Fuadi semasa ia di pondok tersebut begitu jelas ia tuliskan dalam novel Negara 5 Menara. Kemudian, seusai ia mondok dan kuliah ia tuliskan dalam novel Ranah 3 Warna. Dalam novel tersebut ia juga menyisipkan pepatah islami yaitu “man shabara zhafiraµ” yang artinya siapa yang bersabar akan beruntung. Dalam novel tersebut juga dituliskan kisah-kisah inspiratif perjuangan Alif semasa kuliah, perjuangannya dalam kekurangan hingga semangatnya yang tak pernah pupus sampai ia bisa mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika.
Jika dalam novel Negeri 5 Menara ia hanya menyuguhkan kisah inspiratif pelajar, dalam novel Ranah 3 Warna ini ia mulai menyuguhkan kisah-kisah inspiratif dalam kehidupan yang sesungguhnya. Kisah begitu terpukulnya Alif ketika kehilangan sosok Ayah yang selalu mendukungnya, saat ia terpuruk dan tak percaya akan Tuhan hingga ia bisa bangkit lagi melawan kerasnya kehidupan. Fuadi juga mulai menyuguhkan romansa percintaan Antara Alif dengan Raisa dengan kisah cinta yang tak sampai karena Raisa akhirnya bertunangan dengan temannya sendiri.

Novel karya Fuadi nampak minus dengan kekurangan. Pilihan bahasa yang ia gunakan tidak begitu sulit dipahami. Ia juga menyisipkan arti yang mudah dipahami jika terdapat bahasa asingnya. Alur yang ia gunakan juga membuat pembaca semakin tertarik, bahkan tidak membuat pembaca semakin bosan malah semakin menjadi-jadi imajinasinya. Layak diacungi jepol, san tak salah jika novel ini menjadi salah satu novel best seller di generasinya.

No comments:

Post a Comment