Translate

Wednesday, May 15, 2013

ESAI KRITIK DRAMA Retno Galuh Diyanti

DIALOG DRAMATIK PADA NASKAH DRAMA “ LEGENDA SITU BAGENDIT”

Oleh:
Retno Galuh Diyanti - 100211404905

Naskah drama adalah karangan yang ditulis menggunakan tangan dan di dalamnya terdapat  tokoh dengan percakapan antartokoh. Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).

Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.
Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung.
Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.
Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh. Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi.
Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.
Pada naskah drama yang berjudul “ Situ Bagendit” terdapat beberapa tokoh yang di analisis melalui cara dramatic yaitu dengan menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita. Di sini tergambar pada tampilan tokoh dramatik antagonis terdapat pada percakapan Nyai Endit yang mempunyai karakter tamak, sombong, dan sewenang-wenang.
Nyi Endit              : “Lah..gak makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.
Nyi Endit              : “Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.

Tokoh antagonis juga terdapat pada percakapan yang diucapkan para centeng yang memiliki watak kasar, jahat, dan sewenang-wenang.
Para Centeng      : “Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”
Yang kedua adalah percakapan sebagai gambaran tokoh protagonist, yaitu percakapan nenek yang memiliki watak bijaksana.
Nenek                  : “Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.

Tokoh protagonist juga terdapat pada percakapan yang diucapkan Nyai Asih yang memiliki watak baik hati.
Nyi Asih               : “Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek.Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan.Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?


Garut adalah salah satu daerah di Jawa Barat.Merupakan daerah yang subur dan memiliki banyak tempat wisata.Salah satunya adalah Situ bagendit.Dan cerita ini adalah mengenai asal-usul terbentuknya situ Bagendit.
                                 
Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota Garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah.Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.

Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka.Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.

Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu.Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani.Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit.Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.

Petani 1          : “Wah kapan ya nasib kita berubah?.Tidak tahan saya hidup seperti ini.Kenapa  yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?”

Petani 2           : “Sssst, jangan kenceng-kenceng atuh, nanti ada yang denger!. Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!”

Sementara itu Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya.

Nyai Endit          : “Barja!!!! Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?”.

Barja                   : “Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi!Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi.”

Nyai Endit          : “Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!”.

Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan.Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.

Penduduk desa  : “Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat dibanding saat kita jual dulu. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.”

Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.

Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk.Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.

Nenek                 : “Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.

Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.

Nenek                 :“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.

Penduduk desa    :“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi
tersebut
Nenek                 : “Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa
ini?” tanya si nenek

Nyi Asih             : “Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek.Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan.Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?”

Nenek                 : “Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.

Nyai Asih           : “Ah percuma saja nenek minta sama dia, gak bakalan dikasih. Kalau nenek lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih.

Nenek                 : “Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”

Nyi Asih             : “Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”

Nenek                 : “Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek.

Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.

Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.

Para Centeng    : “Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.

Nenek                 : “Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan.Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.

Para Centeng    : “Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”

Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya.
Nenek                 : “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah.Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.

Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.

Nyi Endit            : “Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan saja!”

Nyai Endit          :“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit.

Nenek                 : “Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,” kata nenek.

Nyi Endit            : “Lah..gak makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.

Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.

Nenek                 : “Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api.“Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu!Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”

Nyi Endit            : “Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.

Nenek                 : “Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”

Nyi Endit            : “Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong.


Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan.Ternyata tongkat itu tidak bergeming.Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.

Nyi Endit            : “Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut.Gaji kalian aku potong!”

Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.

Nenek                 : “Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa.Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”

Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.

Nenek                 : “Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu.Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”

Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana.Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.

Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah.Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’.Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit.Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.







No comments:

Post a Comment