Translate

Thursday, May 16, 2013

ESAI KRITIK DRAMA Ranggi Ramadhani Ilminisa

Seno Gumira Ajidarma: “Tumirah (Sang Mucikari)” Cerminan Carut Marut Kehidupan Lonthe yang Bercumbu Arti Cinta
Oleh
Ranggi Ramadhani Ilminisa

Cinta. Cinta dalam naskah drama “Tumirah (Sang Mucikari)” adalah suatu hal yang  dirasa sangat manusiawi. Tentu sangat menarik jika berbicara mengenai “Cinta”, apalagi cinta yang ini adalah cinta yang tumbuh dan berkembang dalam dunia para lonthe. Jika bermain logika, maka cinta diantara para lonthe adalah mustahil, karena mereka “melayani” karena tuntutan profesi bukan karena cinta. Berikut adalah nukilan naskah yang berbicara mengenai cinta.


MINAH
Ada sih Mbak, banyak malah. Tapi kita kan harus kawin hanya dengan orang kita cintai?

TUMIRAH
Cinta. Cinta. Apa pelacur itu mengenal cinta?

LASTRI
Memangnya Mbak Tumirah tidak pernah jatuh cinta?

Dilaog tersebut jelas menggambarkan bahwa seorang lonthe sangat mustahil untuk merasakan cinta. Mereka sangsi terhadap arti cinta yang ada pada dunia mereka. Berikut adalah monolog dari Tumirah yang “menyangsikan” untuk bercumbu dengan cinta.

TUMIRAH
Apa mungkin? Apa mungkin manusia tidak mengenal cinta? Ini yang selalu membuat aku tidak mengerti. Seorang penjahat pun punya Ibu, dan apakah mungkin seorang manusia itu tidak mencintai ibunya sendiri? Aku dulu seorang pelacur. Sekarang kadang-kadang juga masih melacur kalau masih mau ada yang make, tapi aku juga seorang perempuan. Aku tidak bisa membayangkan seorang perempuantanpa cinta. Aku dulu pernah punya keluarga, punya suami, dua kali malah. Punya anak – aku tahu apa itu cinta, kangen, rindu, aku tahu.


 Tidak ada yang tidak mungkin bahwa seorang lonthepun dapat merasakan cinta. Cinta adalah rasa bagi setiap makhluk yang hidup dan mempunyai rasa. Jangan dikata hanya manusia, semua makhluk yang bernyawa memiliki cinta, apalagi arti sebuah cinta bagi seorang lonthe.
Drama Tumirah (Sang Mucikari) seakan “menggoyang” dan “mengobrak-abrik” tatanan pemikiran tentang pelacur yang pernah bersarang di otak. Betapa pun pelacur menjual tubuhnya, mereka tidak menjual cinta.
Lakon Tumirah (Sang Mucikari) menceritakan kehidupan seorang germo yang bernama Tumirah. Ia adalah seorang wanita berusia 40 tahun yang menjadi ”Ibu” bagi beberapa pelacur muda yang mendiami rumah bordil. Rumah bordil tersebut terletak di pinggir hutan tak jauh dari medan pertempuran antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak (dalam naskah disebut gerilyawan). Tak jarang pasukan pemerintah maupun pasukan pemberontak berkunjung dan melepaskan kepenatan di rumah bordil yang menawarkan surga duniawi ini.
Suatu ketika, rumah bordil Tumirah didatangi rombongan penari. Pesta pun digelar, hiruk pikuk keceriaan terbangun dalam keremangan malam di tepi hutan. Para pelacur menari dan menyatu dalam suasana pesta yang memesona. Namun suasana itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba datang kelompok ninja (entah siapa mereka). Para ninja mengobrak-abrik rumah bordil, menganiaya, memperkosa, bahkan membunuh seorang pelacur di sana. Tindakan perkosaan yang dilakukan menimpa mereka merupakan suatu pukulan telak yang menghancurkan segala harapannya.
Setelah kejadian itu berlalu, banyak oknum yang berdiri di atas kata “keadilan” memanfaatkan situasi dengan mengorek informasi dari Tumirah. Ketulusan semu dari para oknum (pengacara, wartawan, polisi, dan intel) mempunyai maksud tersendiri. Hal itu semata-mata karena hanya ingin menjual berita dan menebarluaskan penderitaan para pelacur sebagai konsumsi publik.
Berikut adalah nukilan dari dialog antara pengacara dan Tumirah. Dalam nukilan berikut terdapat gambaran bahwa si pengacara hanya ingin menguntungkan dirinya sendiri dengan memanfaatkan keadaan.

PENGACARA
Kami akan membuat tuntutan Mbak Tumirah berhasil. Kami akan menyebarluaskan berita ini. Kami akan berusaha menarik simpati orang banyak. Kami akan datangkan wartawan, kami akan mengangkat masalah ini ke permukaan.

TUMIRAH
Wahai pengacara, dengarlah, kami sedang berduka di sini. Tolong jangan jual kami, tinggalkan kami. Kami bukan tokoh oposisi, bukan pula selebriti. Enyahlah. Pergilah. Cari bangkai-bangkai yang lain.
...

Berikut adalah nukilan dialog antara Tumirah dan wartawan, tentu dalam hal ini tugas wartawan adalah “menghiperbolakan” sesuatu agar seolah-olah pembaca melihat sendiri kejadiannya.

TUMIRAH
“Para pelacur diperkosa ninja” Wah. Berita bagus ya?

WARTAWAN
Bagus sekali Mbak Tumirah. Sensasional. Biarkan saya tulis berita itu. Akan saya bikin sedramatis mungkin. Seolah-olah pembaca melihat sendiri kejadiannya. Pasti pembaca menyukainya. Nanti foto mbak Tumirah saya pasang besar sekali. Malah ada wawancara khusu dengan mbak Tumirah. “Pengakuan Seorang Germo”. Berceritalah Mbak Tumirah apa adanya. Sekarang tidak ada sensor lagi. Tidak ada pembredelan. Kita bisa menulis tanpa takut lagi.

TUMIRAH
Pergi kamu wartawan! Pergi! Jangan bikin aku risi! Tidak tahu malu!
...

Berikut adalah nukilan dialog antara polisi dan Tumirah. Dalam dialog ini secara tegas menyiratkan sindiran bahwa polisi datang jika kerusuhan telah usai dan kalau ada kerusuhan mereka malah pergi. Sungguh sangat miris.

TUMIRAH
Nah! Baru datang polisi sekarang! Kalau ada kerusuhan, mereka pergi! Kerusuhan selesai mereka dating! Apa maunya pak Polisi ini? Mau ngamar atau interogasi?

POLISI
Saya datang Cuma mau minta keterangan, Mbak Tumirah.
...

Berikut adalah nukilan dialog antara Tumirah dan Intel. Jelas  terpampang di sini bahwa intel yang digambarkan adalah seorang intel yang “goblok.” Bagaimana tidak yang seharusnya intel menyembunyikan identitasnya justru sebaliknya, Seno menggambarkannya dengan terang-terangan mengaku bahwa dia adalah intel yang bermaksud akan memata-matai.

TUMIRAH
Sudah! Daritadi kamu ngecap terus! Sekarang kasih tahu apa tujuanmu dating kemari!? Mau ngamar atau memata-matai?

INTEL
Sebetulnya saya disuruh bilang ngamar Mbak Tumirah. Tapi sebenarnya saya disuruh memata-matai

TUMIRAH
Hahahaha! Memang betul kamu itu goblok. Apanya dariku yang mau dimata-matai? Aku ini kan Cuma germo, mucikari pinggiran dari rumah bordil di tepi hutan. Kalau mau memata-matai jangan di sini. Di sana tuh, sama orang-orang yang mau jadi presiden. Siapa tahu mereka juga mau main curang kayak pendahulunya.

Tumirah sebagai tokoh sentral digambarkan sebagai seorang germo, yang secara realitas di masyarakat merupakan sosok yang teralienasi dari masyarakat. Padahal di sisi lain, pelacur juga manusia yang masih memiliki rasa, sifat, ambisi, cita-cita, bahkan kebaikan yang sama seperti manusia lain. Lakon Tumirah (Sang Mucikari) mencoba menggeser pandangan umum tentang pelacur.

TUMIRAH
Anak manusia yang malang, siapakah kamu? Darimana asalmu? Kemana tujuanmu? Cahaya langit telah melahirkan kamu, lantas kamu dapat nama, tapi tak seorang pun kini yang tahu siapa namamu. Orang-orang tidak perlu nama untuk balas dendam, kekerasan tidak pernah punya nama. Untuk apa? Kekerasan selalu hadir demi keangkuhannya sendiri. Kekerasan tidak pernah rendah hati. Orang muda yang malang, siapakah kamu?  Siapa bapakmu? Siapa ibumu? Sudah kawin apa belum? Oalah…apa yang membuat manusia harus menerima kemalangan seperti ini? Orang-orang itu tidak kenal sama kamu. Tapi banyak orang sekarang yang takut  kepada banyak orang.  Padahal banyak orang itu siapa juga kagak jelas. Tiba-tiba saja mereka merajam kamu. O, anak yang malang siapa kamu? Di zaman susah seperti ini, kita tidak bisa tahu sama sekali kenapa kepala kita dipenggal. Belum berpikir sudah dibacok. Aduuuh…negeri apa ini? Orang-orangnya ramah. Ya ramah sekali. Bisa mengalungkan celurit sambil tersenyum.

(Sosok ninja itu bergerak dalam sekaratnya. Tumirah mendekat.)

Aduh, kamu masih hidup ya? Mungkin lebih baik kamu mati saja. Kalau tahu kamu masih hidup, mereka pasti akan merajam kamu lagi. Aduh, anak orang, bagaimana caranya anak seorang ibu harus mengalami nasib seperti ini? Anak-anakku juga bernasib terajam-rajam seperti ini.

(Pelacur-pelacur masuk dari segala arah, mereka seperti mayat hidup. Berjalan dengan pandangan kosong)

Apakah yang bisa lebih kejam bagi seorang perempuan selain dari derita perkosaan? Biarpun mereka pelacur, mereka punya hati. Mereka menjual tubuh, tapi tidak menjual cinta. Bahkan seorang pelacur pun tidak berhak diperkosa! Ada yang diperkosa, ada yang dirajam, ada yang dipenggal kepalanya. Hidup macam apa ini!

(Sosok ninja bergerak lagi)

Ah, betul dia masih hidup. Anak-anakku, ayo kita tolong dia. Kasihan.

Dari nukilan tersebut tentu seseorang dapat memberikan simpulan bahwa ada sesuatu makna yang masih tersembunyi. Dari dialog Tumirah “Aduuuh…negeri apa ini? Orang-orangnya ramah. Ya ramah sekali. Bisa mengalungkan celurit sambil tersenyum” jelas mengisyaratkan bahwa keadaan negeri pada masa orde baru sangat tidak adil.
Seno membuat lakon “Tumirah (Sang Mucikari)” menjadi sesuatu yang berbeda. Titik perbedaan ituah yang membuat naskah drama ini sangat menarik. Dari dialog “Ah, betul dia masih hidup. Anak-anakku, ayo kita tolong dia. Kasihan”, para pelacur digambarakan sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan yang tinggi terhadap manusia lain, walaupun manusia itu sendiri yang berlaku tidak manusiawi terhadap mereka para kaum teralienasi. Hal ini tentu mengubah paradigma masyarakat yang selama ini menganggap kehadiran mereka hanyalah sampah. Padahal di sisi lain mereka juga memiliki hati yang sewaktu-waktu dapat bercokol dengan indahnya.
Ada sisi lain yang tersembunyi dalam diri seorang pelacur, yang tidak pernah terbaca oleh orang lain dalam situasi biasa. Sisi “kemanusiaan” yang memang menjadi kodrat setiap manusia.

LASTRI
Mbak, tolong dong, sebelum kami terpaksa harus melihat wajah pemerkosa kami, beritahu kami, mengapa kami harus menolongnya?

TUMIRAH
Dasar pelacur goblok. Karena kita ini manusia, tahu! Karena kita manusia! Mau ditindas sampai gepeng, mau diperkosa sampai dobol, mau dirajam sampai hancur, hanya satu hal kita tidak boleh hilang, yaitu kemanusiaan kita, ngerti!? Kalau kita mau menindas juga, kalau kita mau memperkosa dan merajam siapapun yang lewat kampong kita, itu hanya menjadikan kita sama saja dengan para bajingan itu, ngerti nggak? Meski aku ini Cuma germo lulusan SMP, jelek-jelek begini aku mengerti menjaga hati. Kita ini perempuan, jangan pernah kita kehilangan keperempuanan kita. Kita punya cara sendiri untuk melawan. Jangan mau didikte untuk menjadi mahluk seperti mereka. Melawan kekerasan dengan kekerasan Cuma cara orang bego. Itu bukan cara manusia, itu cara monyet! Buruan, buka dulu topengnya!

Lakon “Tumirah (Sang Mucikari) juga menyiratkan adanya kemelut politik dan kekacauan di masyarakat. Penganiayaan pelacur dan politik adu domba ninja seakan mewakili ketimpangan sosial bangsa. Peperangan antara pemberontak dan pemerintah adalah simbol dari disintegrasi bangsa. Kacaunya hukum di negara ini juga disimbolkan dengan adanya pengadilan rakyat tanpa ada dasar hukum yang kuat, membunuh orang yang belum tentu bersalah seakan menjadi hal biasa.
Berikut adalah nukilan tersirat yang menyampaikan sindirian terhadap negara hukum tapi tak adil. Dari dialog seseorang yang mengatakan negara ini adalah negara hukum dan yang lain menimpali “hukum rimba,” maka secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa negara hukum yang memberlakukan bahwa siapa yang menang atau yang kuat dialah yang berkuasa.

SESEORANG
Ayo, kita adili sekarang!

SESEORANG
Iya! Kita adili sekarang! Kita bentuk pengadilan rakyat

SESEORANG
Aku jadi hakim!

SESEORANG
Aku jadi jaksa!

SESEORANG
Aku jadi pembela

SESEORANG
Tidak perlu pembela! Taik kucing dengan pembela! Mereka saja main hakim sendiri.

SESEORANG
Lho, ini kan Negara hukum?

SESEORANG
Iya! Hukum rimba!

Menakjubkan. Meski judul naskah drama ini menggelitik telingat namun esensi pesan yang terkandung di dalamnya memancing untuk berfikir lebih kritis terhadap arti sebuah kehidupan. Bukan sisi erotisisme yang lebih ditonjolkan, namun pesan moral yang teramat dalam yang ingin disampaikan. Carut-marut kehidupan dengan segala perniknya terkadang mampu menciptakan disharmoni hidup yang mau tidak mau harus disikapi dengan tegas. Cinta dan kasih adalah rasa untuk memperkuat keharmonisan hidup yang kita jalani.


No comments:

Post a Comment