Translate

Thursday, May 16, 2013

ESAI KRITIK DRAMA Agustin Prasetyawati

PENGHIANATAN DALAM “BERGAUL DENGAN DEBU HITAM”
Oleh
Agustin Prasetyawati - 100211404896



Drama merupakan salah satu genre sastra. Menurut definisi, drama adalah ragam satra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertunjukkan di atas pentas (Zaidan, 2000). Drama memiliki bentuk sendiri, saat puisi kebanyakan berbentuk monolog dan novel atau cerpen perpaduan dialog dan monolog, maka drama drama merupakan karya sastra berupa dialog. Dengan melihat naskah pun pembaca akan mengetahui bahwa karya tersebut adalah drama.
Pada kesempatan ini, penulis akan mengkaji atau menganalisis sebuah drama yang berjudul “Bergaul dengan Debu Hitam”. Dalam mengkaji “Bergaul dengan Debu Hitam” penulis akan menggunakan pendekatan objektif yaitu memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur yang dikenal dengan analisis intrinsik (tema, penokohan, latar, alur, konflik, amanat, sudut pandang dan gaya bahasa).
Sebelum masuk kepada pembahasan analisis naskah drama ini, saya akan memaparkan isi naskah drama “Bergaul dengan Debu Hitam” ini terlebih dahulu sebagai berikut.

BABAK I
Tentang sepenggal kehidupan Inyung di desa
Scene 1:
(narator mendeskripsikan suasana di rumah Inyung yang sepi dan sangat sederhana)
Di sebuah desa di Jawa Timur, tinggallah seorang gadis yang lugu bernama Inyung. Sejak kecil Inyung dirawat oleh neneknya karena kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Tepat seminggu setelah kematian neneknya, Inyung mulai berfikir untuk mencari pekerjaan ke kota. Di bale-bale depan rumah neneknya, Inyung dan Hana bercakap-cakap)
Hana               : (sambil memeluk Inyung) aku ikut berduka cita atas meninggalnya nenekmu ya Inyung. Maaf aku baru sempat kesini sekarang karena aku baru pulang dari Surabaya tadi malam
Inyung            : (sambil menahan tangis) terima kasih shinta. Aku hidup sebatang kara sekarang.
Hana               : (duduk di sebelah Inyung) sudah lah. Jangan berlarut larut sedihnya. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku ke Surabaya. Kita bisa tinggal bersama disana.
Inyung            : (menatap Hana) aku tidak punya keahlian apa-apa selain menanam padi. Aku akan kerja apa di Surabaya nanti?
Hana               : (tersenyum sambil memgang tangan Inyung) tenang saja. Aku bisa mencarikan kerjaan buat kamu. Aku jamin nanti kamu bisa cepat mengumpulkan uang dan hidupmu jadi lebih bahagia
Inyung            : (wajah penuh penasaran) kerja seperti apa itu? memang aku lihat kamu sekarang  bisa hidup berkecukupan (sambil melihat leher dan pergelangan Hana yang penuh dengan perhiasan emas)
Hana               : (tersenyum) sudahlah..yang penting kamu ikut aku ke Surabaya. Lusa aku pulang ke Surabaya. Kalau kamu berniat ikut, kita bisa berangkat bersama-sama
Inyung            : baiklah, aku pikir-pikir dulu

BABAK II
Tentang kehidupan Hana di Surabaya
Scene 2:
(narator mendeskripsikan suasana di tempat lokalisasi di Surabaya)
Di sebuah perkampungan lokalisasi, Inyung dibawa Hana untuk diperkenalkan dengan Tante Risa. Sejak dari ujung gang, Inyung melihat banyak perempuan dengan dandanan menor duduk duduk di teras rumah.
Hana               : halo Tante Risa, kenalin nih temenku, Inyung
Tante Risa      : halo Inyung, kamu cantik sekali (sambil menelusuri wajah dan tubuh Inyung dari atas sampai bawah)
Inyung            : (tersenyum malu) terima kasih Tante. saya Inyung. Kata Hana saya mau diajak kerja di tempat tante
Tante Risa      : (tersenyum lebar dengan bahasa tubuh yang sangat ramah) oh boleeh ..kerjanya ngga susah kok. Hanya menemani tamu ngobrol. Tapi Inyung harus selalu tampil cantik supaya tamunya betah (sambil melirik ke arah Hana)
Inyung            : (penasaran) kelihatannya mudah tante..saya mau coba
Kemudian Tante Risa mengajak Inyung ke dalam sebuah kamar rias, mendandani Inyung dan mengganti baju yang dipakai Inyung. Tidak lama kemudian setelah keluar kamar Inyung sudah tidak menemukan Hana lagi.
Inyung            : (gelisah dan bingung) Hana dimana tante, kemana dia kok tiba-tiba menghilang
Tante Risa      : sudahlah..tidak usah mencari Hana. kamu disini bersama tante saja (memanggil Mas panji untuk masuk ke ruang tamu)
Mas panji       : weleh - weleh (tersenyum genit) ada koleksi baru ya tante
Tante Risa      : (tersenyum lebar) fresh from the oven...Nah Inyung, kenalkan, ini Mas panji. kamu coba temani Mas panji dulu ya. tante masih ada urusan (sambil berlalu meninggalkan Inyung dan Mas panji)
Inyung            : (wajah penuh ketakutan) saya harus melakukan apa om?
Akhirnya Inyung tahu kalau dia telah dijual oleh Hana, teman dekatnya sejak kecil ke Tante Risa dan sejak saat itu dia hidup sebagai wanita penghibur tanpa pernah tahu Hana ada dimana.

Berikut adalah hasil analisis mengenai naskah drama yang telah dipilih yaitu drama yang berjudul “Bergaul dengan Debu Hitam”. Adapun dalam analisis ini akan dibahas mengenai unsur-unsur instrinsik yang membangun drama ini, yakni alur, latar, penokohan, tema, dan amanat yang membangun drama yang dimaksud.
Pertama-tama unsur yang akan dibahas adalah alur. Alur merupakan sebuah unsur yang membangun dalam karya sastra, termasuk drama. Dengan adanya alur, maka cerita yang ada dalam drama akan semakin baik karena alur ibarat sebagai pusat penceritaan dalam sebuah drama dan juga jenis-jenis karya sastra yang lain. Dalam drama “Bergaul dengan Debu Hitam” ini alur yang dipakai oleh pengarang adalah alur yang lazim digunakan dalam drama yakni alur maju. Ini terdapat dalam sebagian besar drama. Mungkin hanya sebagian kecil saja drama yang memiliki alur berbeda. Hal ini dimaksudkan agar dalam mementaskan drama tidak perlu lagi terlalu repot mempersiapkan dan mengatur adegan-adegan yang membutuhkan lebih banyak efek dan persiapan. Sama pula dalam naskah drama ini yang dibawakan dengan alur maju sehingga membuat drama ini mudah untuk dipentaskan. Terlihat dalam drama ini cerita tidak dibawakan dengan rumit dan menyusahkan. Hal ini terbukti dari dialog-dialog yang singkat dan langsung blak-blakan dalam melukiskan keadaan yang ada pada area lokalisasi. Dalam drama ini pengarang ingin mengungkap bagaimana kehidupan kelam yang begitu miris di kota pahlawan yang terkenal dengan area lokalisasi atau penjualan wanita.
Kemudian latar yang terdapat dalam drama “Bergaul dengan Debu Hitam” adalah tentang latar tempat di mana para tokoh melakukan dialog maupun adegan dalam cerita. Dalam drama ini menggunakan latar di rumah Inyung yang menjadi tempat kesepakatan Hana untuk mencarikan Inyung sebuah pekerjaan.
Di sebuah desa di Jawa Timur, tinggallah seorang gadis yang lugu bernama Inyung. Sejak kecil Inyung dirawat oleh neneknya karena kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Tepat seminggu setelah kematian neneknya, Inyung mulai berfikir untuk mencari pekerjaan ke kota. Di bale-bale depan rumah neneknya, Inyung dan Hana bercakap-cakap.

Latar yang lain yakni di area lokalisasi di mana tempat Inyung diperkenalkan kepada Tante Risa, seorang germo yang akan menerima Inyung sebagai wanita yang akan dijual di area lokalisasi itu.
Di sebuah perkampungan lokalisasi, Inyung dibawa Hana untuk diperkenalkan dengan Tante Risa. Sejak dari ujung gang, Inyung melihat banyak perempuan dengan dandanan menor duduk duduk di teras rumah.

Berikutnya adalah penokohan yang terdapat dalam drama. Dalam drama ini tokoh terdiri dari 4 orang, yaitu Inyung, Hana, Tante Risa, dan Mas Panji. Inyung   merupakan seorang perempuan muda dari desa yang manis dan lugu. Hana merupakan seorang perempuan sexy berumur 25 tahun, seorang wanita tuna Saniala di Surabaya dan merupakan sahabat baik Inyung.
Hana               : (sambil memeluk Inyung) aku ikut berduka cita atas meninggalnya nenekmu ya Inyung. Maaf aku baru sempat kesini sekarang karena aku baru pulang dari Surabaya tadi malam
Inyung             : (sambil menahan tangis) terima kasih shinta. Aku hidup sebatang kara sekarang.
Hana               : (duduk di sebelah Inyung) sudah lah. Jangan berlarut larut sedihnya. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku ke Surabaya. Kita bisa tinggal bersama disana.
Inyung             : (menatap Hana) aku tidak punya keahlian apa-apa selain menanam padi. Aku akan kerja apa di Surabaya nanti?
Hana               : (tersenyum sambil memgang tangan Inyung) tenang saja. Aku bisa mencarikan kerjaan buat kamu. Aku jamin nanti kamu bisa cepat mengumpulkan uang dan hidupmu jadi lebih bahagia

Tokoh selanjutnya adalah tante Risa merupakan  seorang germo, meskipun sudah berusia 45 tahun, dia masih kelihatan cantik dan selalu berpenampilan rapi, pintar berbicara dan meyakinkan orang.
Hana               : halo Tante Risa, kenalin nih temenku, Inyung
Tante Risa       : halo Inyung, kamu cantik sekali (sambil menelusuri wajah dan tubuh Inyung dari atas sampai bawah)
Inyung             : (tersenyum malu) terima kasih Tante. saya Inyung. Kata Hana saya mau diajak kerja di tempat tante
Tante Risa       : (tersenyum lebar dengan bahasa tubuh yang sangat ramah) oh boleeh ..kerjanya ngga susah kok. Hanya menemani tamu ngobrol. Tapi Inyung harus selalu tampil cantik supaya tamunya betah (sambil melirik ke arah Hana)
Inyung             : (penasaran) kelihatannya mudah tante..saya mau coba

Tokoh yang terakhir adalah Mas panji yang merupakan seorang pria yang sering mengunjungi tempat lokalisasi yang memiliki karakter genit dan merupakan seorang yang kaya.
Inyung             : (gelisah dan bingung) Hana dimana tante, kemana dia kok tiba-tiba menghilang
Tante Risa       : sudahlah..tidak usah mencari Hana. kamu disini bersama tante saja (memanggil Mas panji untuk masuk ke ruang tamu)
Mas panji        : weleh - weleh (tersenyum genit) ada koleksi baru ya tante
Tante Risa       : (tersenyum lebar) fresh from the oven...Nah Inyung, kenalkan, ini Mas panji. kamu coba temani Mas panji dulu ya. tante masih ada urusan (sambil berlalu meninggalkan Inyung dan Mas panji)
Inyung             : (wajah penuh ketakutan) saya harus melakukan apa om?

Selanjutnya adalah tema yang terdapat dalam drama ini yaitu tema persahabatan dan dunia kelam. Drama ini mencerminkan penghianatan yang dilakukan oleh seorang teman yang tega menjerumuskan temannya sendiri ke dalam dunia kelam. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri karena dia akan mendapatkan keuntungan yang besar tanpa memikirkan nasib temannya yang menderita menjalani kehidupan barunya di dunia lokalisasi.
Inyung             : (gelisah dan bingung) Hana dimana tante, kemana dia kok tiba-tiba menghilang
Tante Risa       : sudahlah..tidak usah mencari Hana. kamu disini bersama tante saja (memanggil Mas panji untuk masuk ke ruang tamu)
Mas panji        : weleh - weleh (tersenyum genit) ada koleksi baru ya tante
Tante Risa       : (tersenyum lebar) fresh from the oven...Nah Inyung, kenalkan, ini Mas panji. kamu coba temani Mas panji dulu ya. tante masih ada urusan (sambil berlalu meninggalkan Inyung dan Mas panji)
Inyung             : (wajah penuh ketakutan) saya harus melakukan apa om?
Akhirnya Inyung tahu kalau dia telah dijual oleh Hana, teman dekatnya sejak kecil ke Tante Risa dan sejak saat itu dia hidup sebagai wanita penghibur tanpa pernah tahu Hana ada dimana.

Dan terakhir adalah amanat yang terdapat dalam drama, yakni memiliki amanat yang ingin disampaikan kepada para semua orang, baik anak muda maupun sudah tua agar lebih berhati-hati saat memilih teman. Tidak semua teman baik untuk kita. Kita yakin bahwa seorang teman pastinya akan menemani kita dan membimbing kita ke arah kebaikan dan keselamatan. Namun di balik itu semua kita juga harus tetap waspada terhadap teman yang hanya akan menjerumuskan kita pada kehidupan yang kelam karena pergaulan juga akan menentukan sukses dan tidaknya kita dalam menjalani kehidupan ini.
Selain itu, drama tersebut juga mencerminkan kehidupan masyarakat saat ini yang semakin gila harta. Mereka tidak pernah memikirkan baik atau tidaknya cara mereka untuk mendapatkan harta tersebut. Namun yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana mereka dapat mendapatkan harta yang banyak dalam waktu yang singkat dan dengan cara yang mudah. Sama halnya dengan dunia prostitusi ini. Mereka yang tega melakukan penjualan wanita tidak memikirkan bagaimana batin mereka-mereka yang mereka jual, mereka hanya mengejar harta yang akan diperolehnya dari penjualan wanita tersebut. Begitu pula dengan korban atau wanita yang dijual. Meski awalnya mereka merasa keberatan, namun karena terlanjur merasa hina, mereka akhirnya rela melanjutkan pekerjaannya itu seterusnya demi bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Karena mereka merasa tak ada pekerjaan lain yang pantas bagi mereka yang telah hina.
Berdasarkan uraian tersebut maka kita sebagai generasi penerus bangsa yang berpendidikan selayaknya kita tidak mencontoh hal tersebut. Jangan mudah dibodohi orang-orang yang ingin menjerumuskan kita untuk ikut ke dalam hal-hal yang buruk. Kita harus bisa memilih, mana yang baik dan mana yang buruk. Kita yang berpendidikan seharusnya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan halal sehingga dapat menghasilkan harta yang halal dan barokah pula.

Daftar Rujukan:

Kususun. 2013. Contoh Naskah Drama Teater Terbaru, (Online), (http://kususun.blogspot.com/2013/03/contoh-naskah-drama-teater-terbaru.html, diakses pada 26 April 2013).

No comments:

Post a Comment